TERNATE – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara yang mencatat angka fantastis menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara Tahun 2025. Acara yang digelar di Gamalama Ballroom Bella Hotel, Selasa (2/12), mengusung tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan,” dan menjadi ajang kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha untuk membahas stabilitas serta akselerasi ekonomi daerah.
Kepala Bank BI Perwakilan Malut, Dwi Putra Indrawan, memaparkan kinerja ekonomi daerah yang sangat positif di tengah tantangan global. Maluku Utara mencatat pertumbuhan luar biasa sebesar 39,10 persen pada Kuartal III-2025, jauh melampaui pertumbuhan nasional yang sebesar 5,04 persen. Kinerja cemerlang ini ditopang oleh industri pengolahan nikel (hilirisasi) yang menyumbang 95 persen dari total ekspor daerah, terutama untuk bahan baku industri besi baja dan komponen baterai Electric Vehicle (EV) ke Tiongkok. Meskipun pertumbuhan tinggi, kabar baiknya inflasi Maluku Utara tercatat terkendali di 1,89 persen year-on-year per November 2025, tetap berada dalam sasaran target pemerintah.
Dwi Putra juga mencatat stabilitas sistem keuangan yang baik, ditandai dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Malut sebesar 43 persen (Rp15,8 triliun). Namun, BI mengimbau perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit produktif dan kredit UMKM yang pertumbuhannya masih rendah.
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, memberikan apresiasi tinggi kepada BI dan perbankan yang telah menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pelaku usaha, termasuk pengembangan ekonomi syariah bersama KDEKS. Meskipun demikian, Wagub Sarbin menekankan adanya tantangan besar:
“Meskipun pertumbuhan ekonomi daerah mencapai angka yang sangat tinggi, rakyat belum sepenuhnya menikmati apa yang disebut dengan pembangunan sesungguhnya, karena belum optimal realisasi pengembangan di sektor lain,” ujar Wagub Sarbin.
Menanggapi hal tersebut, Pemprov berkomitmen untuk tidak lagi bergantung pada sumber daya alam yang habis. Dibawah kepemimpinan Sherly-Sarbin, Pemprov akan memulai realisasi pengembangan pada komoditas kelapa di sektor pertanian, dengan harapan petani kelapa memiliki pilihan untuk menjual buahnya atau kopranya, didukung oleh pasar yang bagus. Selain itu, Pemprov berkomitmen mengalihkan fokus pembangunan masa depan ke sektor pariwisata, wisata kuliner rempah-rempah, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam acara tersebut, BI juga menyoroti peningkatan signifikan dalam digitalisasi keuangan di Maluku Utara. Penggunaan QRIS mencatat pertumbuhan tinggi dengan 132.000 merchant dan 102.000 pengguna per September 2025. Selain itu, program Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETP) Malut mengalami akselerasi, di mana 10 dari 11 Pemda sudah masuk kategori digital, bahkan berhasil meraih penghargaan TP2DD championship.
Pertemuan tahunan yang menunjukkan sinergi kuat antar-pihak ini dihadiri oleh Wagub Malut, Wali Kota Ternate, Kepala BI perwakilan Malut, perwakilan Forkopimda, pimpinan OPD, dan para pelaku usaha.




