Daerah

Rencana Unras WALHI Diprotes Keras Warga Kawasi

LABUHA – Rencana aksi demonstrasi yang akan digelar oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara di Kantor Perwakilan Harita di Ternate pada hari Kamis, 11 Desember 2025, diprotes keras masyarakat Desa Kawasi, Halmahera Selatan. Protes ini muncul karena WALHI Malut dituding mengatasnamakan warga dan Desa Kawasi dalam tuntutan mereka tanpa adanya legitimasi dari masyarakat.

Surat pemberitahuan aksi WALHI dengan nomor: 135/ADV/ED/WALHI-MALUT/VIII/2025 memuat empat poin tuntutan. Namun, aksi yang kabarnya hanya diikuti oleh sekitar 10 orang pendemo ini dianggap tidak sah oleh warga Kawasi karena dinilai mengklaim aspirasi mereka tanpa izin.

Warga Kawasi secara tegas membantah keterlibatan mereka. Mereka menilai isu-isu yang diangkat oleh WALHI Malut tidak mewakili suara mayoritas masyarakat dan bahkan dicurigai “sarat kepentingan pribadi”.

“Mereka pakai kop surat (WALHI) yang ditandangani oleh koordinator Ucok S Dola serta sudah mengatasnamakan warga dan masyarakat Desa Kawasi, padahal kami tidak pernah memberikan persetujuan atau mandat untuk melakukan demonstrasi,” tegas Mansur, salah seorang warga Desa Kawasi.

Menurut Mansur, isu yang diangkat WALHI tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan. Ia menyebut bahwa saat ini masyarakat Desa Kawasi justru sudah banyak mendapatkan bantuan dari pihak Harita, terutama dalam penanganan masalah listrik desa.

“Seharusnya itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan, tetapi oleh HARITA sudah menanganinya dengan baik. Saran kami agar WALHI tidak beralibi yang berlebihan ataupun memprovokasi keadaan, kami di sini aman-aman semua,” lanjut Mansur.

Sikap keras warga Kawasi tidak berhenti pada penolakan. Mereka bahkan mengancam akan melakukan aksi balasan jika WALHI terus menggunakan nama Desa Kawasi dalam aktivitas mereka.

“Bila WALHI terus begini, maka kami akan boikot seluruh aktivitas mereka di Pulau Obi serta mendesak agar WALHI Maluku Utara dibubarkan saja,” tutup Mansur.

Penolakan keras ini menjadi gambaran adanya perbedaan pandangan yang besar antara aktivis lingkungan WALHI Malut di Ternate dengan realitas dan situasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat di lokasi operasional perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *